Assalamu’alaikum, pembaca yang budiman. Sebenaranya penulis
malu ketika tulisan blog ini yang tak tersambung begitu lama. Kaya gak serius,
hahaha “Emang”.
Jadi
gini, ada faktor-faktor yang mempengarui para penulis blog untuk terhenti dari
aktifitas bloggingya. Pertama, gak ada koneksi internet (yaa bisa dibilang
kehabisan kouta gitu),ahaha. Yang kedua, lagi sibuk ngurusin hal lain. Yang
ketiga, males nulis blog. Dan masih banyak alasan lagi.
Kalau
halangan yang menghambat say sendiri yaitu gabungan dari tiga faktor-faktor
tadi, hehe
Menurut
saya, penulis blog itu tulisannya akan dibaca oleh siapapun. Jadi menulis blog
gak boleh sembarangan. Apalagi kisah-kisah mengenai indera yang telah saya
posting itu hasil dari pengalaman orang lain, harus berhati-hati sekali.
Penulis
akui bahwa penulisan kisah-kisah indera yang lalu tidak maksimal karena
keterbatasan penulis. Kenapa tidak maksimal? Karena indera manusia itu sungguh
luar biasa sehingga penulis telah kehabisan kata-kata untuk mengungkapkannya
dan kembali lagi “tidak boleh sembarangan” (harus punya dasar (y) ).
Mari
kita lanjut ke Kisah Indera berikutnya,
kali ini giliran pengecap atau lidah. Tapi disini akan dibahas lebih banyak
tentang mulut.
Diantara
kelima indera yang aku punya, sepertinya hanya mulut yang paling susah aku
jaga. Bagaimana tidak? Aku tamak karena aku tak bisa menjaganya, aku
menggunjing karena aku tak bisa menjaganya, aku sakit karena aku tak bisa
menjaganya. Tapi mulut ini juga bisa dibanggain lho. Aku bisa bicara, melaluinya
aku berkomunikasi dengan mahluk lain, aku bisa makan dan minum, melaluinya aku
bisa beraktifitas dari energy yang dihasilkannya. Memang di dunia ini tidak ada
hal yang positif yang tidak diiringi hal negative, dimana ada hal positif
disitu juga ada hal negative. Pintar-pintar ngambil sisi positif dari sebuah
kejadian yaa J
Masih
di hari yang sama. Saat ku bangun dari tidur, melalui mulut aku meminum segelas
air. Subhanallah, nikmat ini datang dariMu ya Robb. Cobalah kita tidak minum
sehari dalam rangka puasa, maka saat berbuka puasa, saat meneguk air bening,
saat terasa sejuk air yang kita teguk sedikit demi sedikit, itulah nikmat. Lalu
apa harus dengan kondisi kehausan seperti itu saja kita merasakan nikmat
sehingga kita bisa bersyukur? Apa itu berarti kita bersyukur kepada Allah saat
kita kena musibah kehausan lalu mendapat hujan? Jadi harus diazab dulu?
Na’udzubillah, jangan sampai
Saat
beraktifitas, aku juga tidak luput dari menggunaka mulut ini. Sungguh aku masih
jauh dari mensyukuri nikmat yang Allah berikan ini walau aku sudah sholat,
zakat, puasa dan lainnya, percayalah, Allah tidak butuh itu semua (sholat,
puasa, zakat dan amal solehmu). Yang ada, kitalah yang butuh Allah. Perbuatan
baik/amal soleh kita lakukan karena kita berharap mendapat maaf, ampunan,
rahmat, dan ridho Allah di dunia hingga akhirat.
Para
pembaca, mari bersyukur ;-) .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar