Senin, 23 Maret 2015

Kisah Indera - Mulut

Assalamu’alaikum,  pembaca yang budiman. Sebenaranya penulis malu ketika tulisan blog ini yang tak tersambung begitu lama. Kaya gak serius, hahaha “Emang”.

Jadi gini, ada faktor-faktor yang mempengarui para penulis blog untuk terhenti dari aktifitas bloggingya. Pertama, gak ada koneksi internet (yaa bisa dibilang kehabisan kouta gitu),ahaha. Yang kedua, lagi sibuk ngurusin hal lain. Yang ketiga, males nulis blog. Dan masih banyak alasan lagi.
Kalau halangan yang menghambat say sendiri yaitu gabungan dari tiga faktor-faktor tadi, hehe
Menurut saya, penulis blog itu tulisannya akan dibaca oleh siapapun. Jadi menulis blog gak boleh sembarangan. Apalagi kisah-kisah mengenai indera yang telah saya posting itu hasil dari pengalaman orang lain, harus berhati-hati sekali.

Penulis akui bahwa penulisan kisah-kisah indera yang lalu tidak maksimal karena keterbatasan penulis. Kenapa tidak maksimal? Karena indera manusia itu sungguh luar biasa sehingga penulis telah kehabisan kata-kata untuk mengungkapkannya dan kembali lagi “tidak boleh sembarangan” (harus punya dasar (y) ).

Mari kita lanjut ke  Kisah Indera berikutnya, kali ini giliran pengecap atau lidah. Tapi disini akan dibahas lebih banyak tentang mulut.

Diantara kelima indera yang aku punya, sepertinya hanya mulut yang paling susah aku jaga. Bagaimana tidak? Aku tamak karena aku tak bisa menjaganya, aku menggunjing karena aku tak bisa menjaganya, aku sakit karena aku tak bisa menjaganya. Tapi mulut ini juga bisa dibanggain lho. Aku bisa bicara, melaluinya aku berkomunikasi dengan mahluk lain, aku bisa makan dan minum, melaluinya aku bisa beraktifitas dari energy yang dihasilkannya. Memang di dunia ini tidak ada hal yang positif yang tidak diiringi hal negative, dimana ada hal positif disitu juga ada hal negative. Pintar-pintar ngambil sisi positif dari sebuah kejadian yaa J

Masih di hari yang sama. Saat ku bangun dari tidur, melalui mulut aku meminum segelas air. Subhanallah, nikmat ini datang dariMu ya Robb. Cobalah kita tidak minum sehari dalam rangka puasa, maka saat berbuka puasa, saat meneguk air bening, saat terasa sejuk air yang kita teguk sedikit demi sedikit, itulah nikmat. Lalu apa harus dengan kondisi kehausan seperti itu saja kita merasakan nikmat sehingga kita bisa bersyukur? Apa itu berarti kita bersyukur kepada Allah saat kita kena musibah kehausan lalu mendapat hujan? Jadi harus diazab dulu? Na’udzubillah, jangan sampai
Saat beraktifitas, aku juga tidak luput dari menggunaka mulut ini. Sungguh aku masih jauh dari mensyukuri nikmat yang Allah berikan ini walau aku sudah sholat, zakat, puasa dan lainnya, percayalah, Allah tidak butuh itu semua (sholat, puasa, zakat dan amal solehmu). Yang ada, kitalah yang butuh Allah. Perbuatan baik/amal soleh kita lakukan karena kita berharap mendapat maaf, ampunan, rahmat, dan ridho Allah di dunia hingga akhirat.

Para pembaca, mari bersyukur ;-) .

Sabtu, 15 November 2014

Lirik Lagu

Kotak - Sendiri
Berjalan, sendiri
disiniRenungi cinta kita yang telah mati
Terlintas bayanganmu saat masih bersama
Pedihnya kusadari kau bukan milikku lagi

Mencoba untuk ku mengerti
Arti cinta yang telah kau beri
Diriku yang percaya semua dustamu
Kiniku mampu berkata kau pergi saja dariku

Aku terus bertahan
Kucoba untuk lupakan
Semua beban dihati
Ku jatuh terhempas
Tak sanggup ku lalui
Jiwa ini tlah terluka
Kekosongan yang ada
Melingkupi raga diriku


Dari : http://lirik.kapanlagi.com/artis/kotak/sendiri

Kamis, 13 November 2014

Kisah Indera - Telinga 2



Orang yang dekat dengan Allah, ia bisa tahu kapan gunung akan meletus, kapan wanita hamil akan melahirkan tanpa bantuan radar. Yakinlah pada Allah.

Untuk bisa dekat dengan Allah, tentu harus melalui banyak proses. Untuk saat ini saja, aku belum bisa bersyukur dengan benar atas nikmat Allah. Aku masih berusaha menggapai ridhoNya. Aku yakin, aku berusaha mendekati Allah dan Allah berusaha mendekatiku.

Duhai Tuhanku yang maha bijaksana, tolong jaga pendengaranku agar aku bisa menggunakannya dalam hal-hal kebaikan yang membawa manfaat di dunia dan akhirat.

Pembaca yang budiman, penulis jadi teringat masa kholifah Umar bin Khottob Ra.

Ketika Umar Ra sedang berkhutbah diatas mimbar di Madinah, tiba-tiba ia melihat dan mengetahui pasukan muslim yang tengah berperang di Yerussalem, Palestina sedang terdesak. Lalu secara tiba-tiba Umar Ra berkata “Wahai Sariyah, pergi (berlindung) ke balik bukit itu, bukit itu !”.

Madinah dan Yerussalem itu jauh seekaaliiii.

Jama’ah yang berada di Madinah terkejut dan heran karena Umar Ra tiba-tiba berkata demikian sambil menunjuk nunjuk. Tapi ternyata beliau mengetahui bahwa pasukan muslim yang berperang di Yerussalem dibawah pimpinan Sariyah bin Zanim Al-Khalji sedang terdesak oleh pasukan musuh sehingga Umar Ra yang mengetahui hal itu segera memberi tahu Sariyah untuk berlindung di balik bukit dan Sariyah pun mendengar ucapan Kholifah Umar Ra.
Saat itu jumlah pasukan musuh lebih banyak dan datang dari berbagai arah, dengan berlindungnya Sariyah ke balik bukit yang ditunjuk Umar, musuh hanya bisa menyerang dari satu arah. Sehingga pasukan muslim yang mempunyai semangat tinggi bisa menguasai peperangan itu. Dan akhirnya pasukan muslim berhasil menduduki Yerussalem.

Selang beberapa minggu kemudian, datanglah pasukan yang dipimpin Sariyah menghadap Umar Ra. Ia mengatakan bahwa, persis di hari yang sama ketika Umar Ra berkhutbah di Madinah, Sariyah mendengar suara Umar ra yang memerintahkan untuk berlindung ke balik bukit itu. Wallahu a’lam.

Terimakasih, kita akan lanjut ke Kisah Indera selanjutnya. Semoga bermanfaat ☺.

Rabu, 12 November 2014

Kisah Indera - Telinga



Melanjutkan kisah sebelumnya, kali ini penulis akan melanjutkan Kisah Indera, yaitu pendengaran “Telinga”.

Kata Uje (Ust. Jeffri Al-Bukhori) : Manusia wajib bersyukur, karena Allah telah memberikan modal yang besar. Siapa bilang kita tidak punya apa-apa? Mata adalah modal yang dahsyat, telinga adalah modal yang tak tertandingi, mulut adalah modal yang sangat berguna, bagaimana dengan akal, fikiran? Sudah pasti itu bisa menjadi modal kekuatan hidup dunia dan akhirat. itu adalah modal yang sangat besar.

Telinga adalah modal dari Allah yang tak tertandingi, itulah kata Uje. Kenapa modal yang tak tertandingi? Karena selain melalui mata, telinga pun bisa menjadi media masuknya ilmu ke hati dan fikiranku,itulah sebabnya aku tidak boleh berkata “aku tidak punya apa-apa”. Aku adalah mahluk, aku punya penciptaku. Aku adalah kholifah, aku punya sesuatu yang harus aku kelola. Dan untuk memahami semua itu, harus dengan ilmu. Telinga, sungguh luar biasa.
Sejak pertama bangun dari tidur, aku diingatkan dengan suara puji-pujian. Tak lama setelah itu, kicauan burung juga bisa ku dengar. Nikmat dan buruknya suara music, aku bisa membedakannya. Baik dan buruknya perkataan orang aku masih bisa meraasaknnya. Mahasuci Engkau, yang memberiku modal yang tak tertandingi ini.

Telinga manusia mempunyai nilai toleransi pendengaraan. Pendengaran kita digolongkan berada di tengah dari seluruh gelombang suara yang diketahui manusia. Manusia tidak bisa mendenga suara yang lebih kecil dan juga tidak bisa mendengar gelombang suara yang terlalu keras / tinggi. Kalau menurut sains, pendengaran manusia hanya mampu mendengar gelombang suara di tingkat mediumsonic (20 – 20.000 Hz). Sedangkan gelombang suara yang lebih kecil / infrasonic (17 – 0,001 Hz), dan gelombang suara yang frekuensinya sangat tinggi / ultrasonic (>20.000 Hz) tidak bisa didengar oleh pendengaran kita.

Gelombang suara Infrasonic bisa digunakan untuk mendeteksi gempa bumi,  ia dapat menjangkau jarak yang jauh dan dapat melewati sebuah medium tanpa kehilangan kekuatan getarnya kecuali hanya sedikit saja.

Gelombang suara Ultrasonic digunakan dalam dunia medis untuk mendiagnosa kesehatan, dan dalam dunia sains salah satunya digunakan untuk system radar, dan lan-lain.

Itu adalah segelintir yang baru manusia pahami, kita sangat tergantung kepada teknologi. Tapi orang yang telah dekat dengan sang pencipta gelombang suara, juga pencipta alam ini, yaitu Allah, ia akan mendengar, ia akan tahu langsung dari Allah. 

Orang yang dekat dengan Allah, ia bisa tahu kapan gunung akan meletus, kapan wanita hamil akan melahirkan tanpa bantuan radar. Yakinlah pada Allah.

Selasa, 11 November 2014

Kisah Indera - Hidung



masih di orang yang sama. Kalau kemarin kita bercerita tentang matanya, sekarang penulis coba bercerita tentang hidungnya.

Masih dihari yang sama. Ketika aku terbangun dari tidur, aku dapati bahwa aku masih bernafas, aku masih hidup. Aku masih diberi kesempatan untuk menghirup udara segar, mencium sedapnya masakan ibu, mencium harumnya bunga dan mencium baunya badan ini yang menunjukkan bahwa aku tidak sempurna dan tidak pantas membanggakan diri.

Melalui wudhu, aku bersihkan hidung ini. Aku hirup airnya, lendir yang kotor ikut keluar bersama keluarnya air melalui hidung dan mulut, begitulah aku menjaganya agar selalu bersih karena udara yang kita hirup setiap saat tidak selalu bersih. Mungkin terkadang terasa panas hingga ke kepala bagian belakang tapi itulah pembersihan rongga-rongga hidung bagian dalam yang setiap saat kita gunakan untuk bernafas.

Aku pernah belajar mengenai tenaga dalam, kunci untuk mendapat tenaga dalam yang bagus salah satunya adalah dengan olah nafas. Nafas yang paling baik adalah melalui hidung, bukan mulut. Dan nafas yang melalui mulut bisa kita salurkan ke perut, dada atau pundak (pernafasan perut, pernafasan dada, dan pernafasan pundak), yang dengan cara pernafasan seperti itu kita bisa mengolah tenaga dalam untuk disalurkan kebagian tubuh manapun.

Dengan mengolah nafas, kita bisa lebih sehat, lebih berkonsentrasi, lebih kuat, lebih cepat dan bahkan bisa melakukan hal luar biasa yang tidak pernah terfikirkan sebelumya. Ada tips dan trik tersendiri untuk mengolahnya. Aku gak bisa berbagi disini, silakan cari guru anda masing-masing.

Mahasuci Engkau ya Allah, hidung yang kata teman-temanku ini pesek tapi menyimpan banyak sekali rahasia. 

Pernah aku sakit flu, rasanya gak enak banget. Jangankan mencium harumnya bunga, bau badan sendiripun gak tercium seperti apa. Dan kalau hidung lagi gak normal itu, suara dan pendengaran juga terganggu.

Lagi, kita wajib bersyukur atas karunia Allah ini.

Kita akan lanjut ke Kisah Indera berikutnya dari teman kita yang tak disebutkan namanya.

Senin, 10 November 2014

Kisah Indera - Mata 2



Disana aku memujiNya, aku meminta bantuanNya, berharap Ia akan mengampuni aku dan menjaga aku dari kehidupan dunia yang ganas ini.

Jam pertama dan kedua berlalu tanpa guru, jadi sholat Dhuha bisa di awal waktu, dan waktu istirahat bisa berkumpul dengan teman-teman. Berkumpul bersama mereka di lantai teratas sekolahku, adalah hal yang biasa aku lakukan ketika jam istirahat. Melihat pemandangan dari ketinggian adalah kesukaan kami, Setelah bel masuk jam ke 3 telah berbunyi, aku masuk kelas untuk mengikuti mata pelajaran saat itu.

Pelajaran tersebut selalu menampilkan sebuah file dari laptop sang guru, dan tidak jarang beliau menyuguhkan sebuah video motivasi atau bahkan hiburan. Kali ini video yang beliau tampilkan adalah mengenai motivasi hidup. Video yang berlatar suara music itu tidak bisa diambil kesimpulan kecuali dengan melihatnya. Mahasuci Engkau ya Rabb, mata ini begitu berharga. Dalam video itu aku menyaksikan bahwa hidup itu jangan selalu mengeluh, jika ada masalah yang menurut akal adalah masalah besar, kita tanyakan kepada hati dan ia akan menjawab “Hai masalah, mungkin bagi orang lain kau adalah (masalah) besar, tapi bagiku tidak ada yang lebih besar daripada Allah. Kau itu kecil dan rendah sehingga Allah mempercayakanku untuk  menyelesaikanmu”.

Ada lagi kesimpulan yang dapat diambil dari video yang singkat itu, yaitu kita sebagai manusia yang mempunyai anggota tubuh yang lengkap, samasekali tidak pantas untuk mudah menyerah. Ada orang yang menjadi juara lari walau hanya satu kaki bawaan dan satu kaki lagi buatan, ada yang menjadi juara lompat tinggi walau tidak memiliki kedua tanga, ada yang menguasai berbagai macam bahasa walau ia masih usia belia dan lain-lain. Mereka tidak mempunyai anggota tubuh yang sesempurna kita, tapi mereka mempunyai semangat meraih tujuan yang luar biasa. Melalui mata, aku tersentuh dengan video ini.

Jam belajar telah usai, aku ingin bersyukur lagi atas nikmat yang barusan Allah berikan melalui video itu. Semoga dengan sholat dhuhur, aku termasuk kedalam golongan hamba Allah yang selalu mensyukuri nikmatNya.

Setelah sholat berjama’ah di masjid, aku pulang.

Kawan, satu indera ini (mata) yang Allah titipkan kepada kita memiliki tujuan tertentu, mungkin agar kita tahu betapa Indah Tuhan kita, betapa Agung dan Bijaksananya Dia melalui ciptaanNya yaitu yang ada di alam semesta ini.

Banyak hikmah yang belum terungkap dari satu indera mata ini. Namun dari yang kita ketahui (dari cerita tadi), mata itu sungguh luar biasa. Melalui mata, kita bisa melihat alam sekitar. Bukan hanya keindahan, hal yang menurut kita buruk-pun adalah suatu nikmat, yaitu (mungkin) supaya kita menjadi hamba Allah yang bisa membandingkan keindahan dengan keburukan, kebaikan dengan kejahatan, dan lainnya. Dengan membandingkannya, kita akan bisa menjadi manusia yang memilih diantara keduanya (membuat kebaikan atau keburukan) sehingga kita bisa menjadi lebih baik dari hari kemarin.

Ada sebuah kisah yang akan penulis singkat mengenai mata yang tadi diceritakan. Dulu, ada seorang ahli ibadah, ia tinggal disebuah pulau, semua kebutuhannya langsung Allah cukupakan untuk dia. Ia makan dari buah yang berbuah hanya setahun sekali, tapi atas kehendak Allah, buah itu berbuah setiap hari untuk ia makan. Ia minum dari air yang bersih, bening, dingin, manis dan sangat nikmat. Ketika ia meninggal dunia, ia ditanya “Hai, Fulan. Mau masuk Surag atau Neraka?”
Ia menjawab :”Aku ingin masuk surga”
Suara ghoib : “kenapa?”
Ahli ibadah : “karena aku selalu taat kepada Allah dan tidak pernah maksiat”
Suara ghoib :”Hai, malaikat, lemparkan orang ini ke neraka”
Ahli ibadah :”Kenapa aku dimasukkan ke neraka? Bukankah aku hamba Allah yang taat kepadaNya dan tidak pernah bermaksiat kepadaNya?”
Suara ghoib : “lihatlah timbangan amalmu, ibadahmu yang setiap saat itu tidak sebanding dengan nikmat Allah yang telah diberikan dan itu hanya melalui mata, belum anggota badanmu yang lain”. 

Pembaca yang budiman, manusia samasekali tidak pantas menyombongkan/mengandalkan amal ibadahnya. Masuknya manusia ke surga itu berkat rahmat Allah, sekalipun itu para nabi. Jadi kalau tidak mendapat rahmat dari Allah, kita adalah manusia yang hina.

Mari sama-sama kita menuju rahmat Allah dengan menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya, tanpa merasa sombong.

semoga bermanfaat, kita lanjut ke Kisah Indera berikutnya

Minggu, 09 November 2014

Kisah Indera - Mata 1



Pernahkah anda mendengarkan  cerita dari teman anda? Yang udah bisa baca, pasti pernah. Ketika mendengarakan cerita orang lain, pernahkah anda membayangkan atau bahkan merasakan apa yang teman anda sampaikan? Mungkin pernah.

Penulis pernah mendengarkan sebuah cerita dari seorang teman, dan rasanya sedang merasakan apa yang ia alami. Sekarang, penulis akan mencoba bercerita tentang apa yang teman penulis sampaikan. Tapi, cerita ini terlalu sulit untuk diceritakan dari sudut pandang orang ketiga. So, penulis mencoba menceritakan hal yang rumit ini, yang jelas dirasakan namun sulit diungkapkan dari sudut pandang orang pertama pelaku utama.

Jadi, “aku” disini bukan penulis, tapi penulis bercerita dari sudut pandang orang pertama pelaku utama. Kan biar lebih mudah menceritakannya daripada sebagai orang ketiga. Cerita ini, sepertinya akan panjang*lebar*tinggi karena penulis akan menceritakan tentang kelima indera orang itu dan apa yang ia rasakan.

Oke, kita langsung ke ceritanya.

Aku adalah siswa SMA negeri di daerah Cirebon. Usiaku kini 18 tahun. Aku adalah putra sematawayang yang selalu disediakan apapun igninku oleh orang tuaku. Aku tak ingin menjadi orang yang manja, tapi orang tuaku belum mengizinkanku untuk mandiri, misalnya nyuci, kerja sampingan, jalan kaki ke sekolah, dll. Walaupun kebutuhanku selalu dipenuhi oleh orang tua, tapi aku bukan orang yang tak beretika. Kesopanan aku  junjung tinggi, setiap hari bajuku rapih, tatanan rambut juga rapih plus minyak rambut. Seolah aku adalah orang yang sempurna, tapi sebagai orang yang punya guru spiritual, aku haruslah merendah diri. Aku punya guru spiritual, dan darinya aku belajar etika yang baik.

Aku terbangun dipagi hari, indah alam ini kusaksikan dengan indera yang berharga yang Allah berikan, yaitu mata. Suasana kamar yang teduh memberikan rasa nyaman hati ini, aku bersyukur padaMu ya Allah, aku berusaha membuktikannya dengan sholat subuh. Mahasuci Engkau, ketika ku buka tirai penutup jendela kamar, kusaksikan dengan mata ini “matahari terbit”. Warna matahari yang dipadu warna langit pagi hari sungguh indah. Ketika ku buka jendela, sejuknya angin menerpa wajahku. Ya Allah, keMahaindahanMu telah kulihat melalui pemandangan pagi ini.

Hanya Engkau yang patut aku puji, dan semua ini adalah berkat Engkau yang telah memberiku pemahaman. Jika aku tak memahami hal ini, mungkin aku hanya melihat keindahan pagi ini sebatas hiburan. Tapi karena Engkau memberiku pemahaman, aku faham. Engkau telah menunjukkan dzatMu yang MahaSempurna.

Aku beranjak dari tempat ini, aku melanjutkan aktifitasku seperti biasa, madi, makan, dll. Saat diperjalanan menuju sekolah, aku melihat kiri-kanan jalan ada banyak pohon yang menaungi sisi jalan pejalan kaki. Hijau warna daunnya, coklat warna kayunya, dan kerumunan burung-burung yang menghiasinya membuatku merasa menjadi orang yang kufur. Bayangkan, hanya melalui mata aku telah mendapatkan begitu banyak nikmat dari Allah, tapi aku jarang sekali bersyukur. Benar bahwa dosanku banyak sekali, duhai Allah yang Mahapengampun, ampuni aku yang selalu melalaikanMu, aku tak kuasa menjaga jiwa-raga ini tanpa bimbinganMu, tolong jaga aku ya Allah.

Sampai disekolah, aku melihat wanita cantik. Tuhan, bagaimana caraku menjadi hambaMu yang bisa bersyukur atas nikmat yang Kau berikan ini, begitu banyak dan begitu besar. Tak kuasa aku menahan rasa bersalah, aku menuju mushola untuk bersujud pada Allah melalui sholat Dhuha.

Disana aku memujiNya, aku meminta bantuanNya, berharap Ia akan mengampuni aku dan menjaga aku dari kehidupan dunia yang ganas ini.