Disana aku memujiNya, aku
meminta bantuanNya, berharap Ia akan mengampuni aku dan menjaga aku dari
kehidupan dunia yang ganas ini.
Jam pertama dan kedua berlalu
tanpa guru, jadi sholat Dhuha bisa di awal waktu, dan waktu istirahat bisa
berkumpul dengan teman-teman. Berkumpul bersama mereka di lantai teratas
sekolahku, adalah hal yang biasa aku lakukan ketika jam istirahat. Melihat pemandangan
dari ketinggian adalah kesukaan kami, Setelah bel masuk jam ke 3 telah
berbunyi, aku masuk kelas untuk mengikuti mata pelajaran saat itu.
Pelajaran tersebut selalu
menampilkan sebuah file dari laptop sang guru, dan tidak jarang beliau
menyuguhkan sebuah video motivasi atau bahkan hiburan. Kali ini video yang
beliau tampilkan adalah mengenai motivasi hidup. Video yang berlatar suara music
itu tidak bisa diambil kesimpulan kecuali dengan melihatnya. Mahasuci Engkau ya
Rabb, mata ini begitu berharga. Dalam video itu aku menyaksikan bahwa hidup itu
jangan selalu mengeluh, jika ada masalah yang menurut akal adalah masalah
besar, kita tanyakan kepada hati dan ia akan menjawab “Hai masalah, mungkin
bagi orang lain kau adalah (masalah) besar, tapi bagiku tidak ada yang lebih
besar daripada Allah. Kau itu kecil dan rendah sehingga Allah mempercayakanku
untuk menyelesaikanmu”.
Ada lagi kesimpulan yang
dapat diambil dari video yang singkat itu, yaitu kita sebagai manusia yang
mempunyai anggota tubuh yang lengkap, samasekali tidak pantas untuk mudah
menyerah. Ada orang yang menjadi juara lari walau hanya satu kaki bawaan dan
satu kaki lagi buatan, ada yang menjadi juara lompat tinggi walau tidak
memiliki kedua tanga, ada yang menguasai berbagai macam bahasa walau ia masih
usia belia dan lain-lain. Mereka tidak mempunyai anggota tubuh yang sesempurna
kita, tapi mereka mempunyai semangat meraih tujuan yang luar biasa. Melalui
mata, aku tersentuh dengan video ini.
Jam belajar telah usai, aku
ingin bersyukur lagi atas nikmat yang barusan Allah berikan melalui video itu. Semoga
dengan sholat dhuhur, aku termasuk kedalam golongan hamba Allah yang selalu
mensyukuri nikmatNya.
Setelah sholat berjama’ah di
masjid, aku pulang.
Kawan, satu indera ini
(mata) yang Allah titipkan kepada kita memiliki tujuan tertentu, mungkin agar kita
tahu betapa Indah Tuhan kita, betapa Agung dan Bijaksananya Dia melalui ciptaanNya
yaitu yang ada di alam semesta ini.
Banyak hikmah yang belum
terungkap dari satu indera mata ini. Namun dari yang kita ketahui (dari cerita
tadi), mata itu sungguh luar biasa. Melalui mata, kita bisa melihat alam
sekitar. Bukan hanya keindahan, hal yang menurut kita buruk-pun adalah suatu
nikmat, yaitu (mungkin) supaya kita menjadi hamba Allah yang bisa membandingkan
keindahan dengan keburukan, kebaikan dengan kejahatan, dan lainnya. Dengan membandingkannya,
kita akan bisa menjadi manusia yang memilih diantara keduanya (membuat kebaikan
atau keburukan) sehingga kita bisa menjadi lebih baik dari hari kemarin.
Ada sebuah kisah
yang akan penulis singkat mengenai mata yang tadi diceritakan. Dulu, ada
seorang ahli ibadah, ia tinggal disebuah pulau, semua kebutuhannya langsung
Allah cukupakan untuk dia. Ia makan dari buah yang berbuah hanya setahun sekali,
tapi atas kehendak Allah, buah itu berbuah setiap hari untuk ia makan. Ia minum
dari air yang bersih, bening, dingin, manis dan sangat nikmat. Ketika ia
meninggal dunia, ia ditanya “Hai, Fulan. Mau masuk Surag atau Neraka?”
Ia menjawab :”Aku
ingin masuk surga”
Suara ghoib : “kenapa?”
Ahli ibadah : “karena
aku selalu taat kepada Allah dan tidak pernah maksiat”
Suara ghoib :”Hai,
malaikat, lemparkan orang ini ke neraka”
Ahli ibadah :”Kenapa
aku dimasukkan ke neraka? Bukankah aku hamba Allah yang taat kepadaNya dan
tidak pernah bermaksiat kepadaNya?”
Suara ghoib : “lihatlah
timbangan amalmu, ibadahmu yang setiap saat itu tidak sebanding dengan nikmat
Allah yang telah diberikan dan itu hanya melalui mata, belum anggota badanmu yang
lain”.
Pembaca yang
budiman, manusia samasekali tidak pantas menyombongkan/mengandalkan amal
ibadahnya. Masuknya manusia ke surga itu berkat rahmat Allah, sekalipun itu para
nabi. Jadi kalau tidak mendapat rahmat dari Allah, kita adalah manusia yang
hina.
Mari sama-sama
kita menuju rahmat Allah dengan menjalankan perintahNya dan menjauhi
laranganNya, tanpa merasa sombong.
semoga bermanfaat,
kita lanjut ke Kisah Indera berikutnya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar