Senin, 10 November 2014

Kisah Indera - Mata 2



Disana aku memujiNya, aku meminta bantuanNya, berharap Ia akan mengampuni aku dan menjaga aku dari kehidupan dunia yang ganas ini.

Jam pertama dan kedua berlalu tanpa guru, jadi sholat Dhuha bisa di awal waktu, dan waktu istirahat bisa berkumpul dengan teman-teman. Berkumpul bersama mereka di lantai teratas sekolahku, adalah hal yang biasa aku lakukan ketika jam istirahat. Melihat pemandangan dari ketinggian adalah kesukaan kami, Setelah bel masuk jam ke 3 telah berbunyi, aku masuk kelas untuk mengikuti mata pelajaran saat itu.

Pelajaran tersebut selalu menampilkan sebuah file dari laptop sang guru, dan tidak jarang beliau menyuguhkan sebuah video motivasi atau bahkan hiburan. Kali ini video yang beliau tampilkan adalah mengenai motivasi hidup. Video yang berlatar suara music itu tidak bisa diambil kesimpulan kecuali dengan melihatnya. Mahasuci Engkau ya Rabb, mata ini begitu berharga. Dalam video itu aku menyaksikan bahwa hidup itu jangan selalu mengeluh, jika ada masalah yang menurut akal adalah masalah besar, kita tanyakan kepada hati dan ia akan menjawab “Hai masalah, mungkin bagi orang lain kau adalah (masalah) besar, tapi bagiku tidak ada yang lebih besar daripada Allah. Kau itu kecil dan rendah sehingga Allah mempercayakanku untuk  menyelesaikanmu”.

Ada lagi kesimpulan yang dapat diambil dari video yang singkat itu, yaitu kita sebagai manusia yang mempunyai anggota tubuh yang lengkap, samasekali tidak pantas untuk mudah menyerah. Ada orang yang menjadi juara lari walau hanya satu kaki bawaan dan satu kaki lagi buatan, ada yang menjadi juara lompat tinggi walau tidak memiliki kedua tanga, ada yang menguasai berbagai macam bahasa walau ia masih usia belia dan lain-lain. Mereka tidak mempunyai anggota tubuh yang sesempurna kita, tapi mereka mempunyai semangat meraih tujuan yang luar biasa. Melalui mata, aku tersentuh dengan video ini.

Jam belajar telah usai, aku ingin bersyukur lagi atas nikmat yang barusan Allah berikan melalui video itu. Semoga dengan sholat dhuhur, aku termasuk kedalam golongan hamba Allah yang selalu mensyukuri nikmatNya.

Setelah sholat berjama’ah di masjid, aku pulang.

Kawan, satu indera ini (mata) yang Allah titipkan kepada kita memiliki tujuan tertentu, mungkin agar kita tahu betapa Indah Tuhan kita, betapa Agung dan Bijaksananya Dia melalui ciptaanNya yaitu yang ada di alam semesta ini.

Banyak hikmah yang belum terungkap dari satu indera mata ini. Namun dari yang kita ketahui (dari cerita tadi), mata itu sungguh luar biasa. Melalui mata, kita bisa melihat alam sekitar. Bukan hanya keindahan, hal yang menurut kita buruk-pun adalah suatu nikmat, yaitu (mungkin) supaya kita menjadi hamba Allah yang bisa membandingkan keindahan dengan keburukan, kebaikan dengan kejahatan, dan lainnya. Dengan membandingkannya, kita akan bisa menjadi manusia yang memilih diantara keduanya (membuat kebaikan atau keburukan) sehingga kita bisa menjadi lebih baik dari hari kemarin.

Ada sebuah kisah yang akan penulis singkat mengenai mata yang tadi diceritakan. Dulu, ada seorang ahli ibadah, ia tinggal disebuah pulau, semua kebutuhannya langsung Allah cukupakan untuk dia. Ia makan dari buah yang berbuah hanya setahun sekali, tapi atas kehendak Allah, buah itu berbuah setiap hari untuk ia makan. Ia minum dari air yang bersih, bening, dingin, manis dan sangat nikmat. Ketika ia meninggal dunia, ia ditanya “Hai, Fulan. Mau masuk Surag atau Neraka?”
Ia menjawab :”Aku ingin masuk surga”
Suara ghoib : “kenapa?”
Ahli ibadah : “karena aku selalu taat kepada Allah dan tidak pernah maksiat”
Suara ghoib :”Hai, malaikat, lemparkan orang ini ke neraka”
Ahli ibadah :”Kenapa aku dimasukkan ke neraka? Bukankah aku hamba Allah yang taat kepadaNya dan tidak pernah bermaksiat kepadaNya?”
Suara ghoib : “lihatlah timbangan amalmu, ibadahmu yang setiap saat itu tidak sebanding dengan nikmat Allah yang telah diberikan dan itu hanya melalui mata, belum anggota badanmu yang lain”. 

Pembaca yang budiman, manusia samasekali tidak pantas menyombongkan/mengandalkan amal ibadahnya. Masuknya manusia ke surga itu berkat rahmat Allah, sekalipun itu para nabi. Jadi kalau tidak mendapat rahmat dari Allah, kita adalah manusia yang hina.

Mari sama-sama kita menuju rahmat Allah dengan menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya, tanpa merasa sombong.

semoga bermanfaat, kita lanjut ke Kisah Indera berikutnya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar