Minggu, 09 November 2014

Kisah Indera - Mata 1



Pernahkah anda mendengarkan  cerita dari teman anda? Yang udah bisa baca, pasti pernah. Ketika mendengarakan cerita orang lain, pernahkah anda membayangkan atau bahkan merasakan apa yang teman anda sampaikan? Mungkin pernah.

Penulis pernah mendengarkan sebuah cerita dari seorang teman, dan rasanya sedang merasakan apa yang ia alami. Sekarang, penulis akan mencoba bercerita tentang apa yang teman penulis sampaikan. Tapi, cerita ini terlalu sulit untuk diceritakan dari sudut pandang orang ketiga. So, penulis mencoba menceritakan hal yang rumit ini, yang jelas dirasakan namun sulit diungkapkan dari sudut pandang orang pertama pelaku utama.

Jadi, “aku” disini bukan penulis, tapi penulis bercerita dari sudut pandang orang pertama pelaku utama. Kan biar lebih mudah menceritakannya daripada sebagai orang ketiga. Cerita ini, sepertinya akan panjang*lebar*tinggi karena penulis akan menceritakan tentang kelima indera orang itu dan apa yang ia rasakan.

Oke, kita langsung ke ceritanya.

Aku adalah siswa SMA negeri di daerah Cirebon. Usiaku kini 18 tahun. Aku adalah putra sematawayang yang selalu disediakan apapun igninku oleh orang tuaku. Aku tak ingin menjadi orang yang manja, tapi orang tuaku belum mengizinkanku untuk mandiri, misalnya nyuci, kerja sampingan, jalan kaki ke sekolah, dll. Walaupun kebutuhanku selalu dipenuhi oleh orang tua, tapi aku bukan orang yang tak beretika. Kesopanan aku  junjung tinggi, setiap hari bajuku rapih, tatanan rambut juga rapih plus minyak rambut. Seolah aku adalah orang yang sempurna, tapi sebagai orang yang punya guru spiritual, aku haruslah merendah diri. Aku punya guru spiritual, dan darinya aku belajar etika yang baik.

Aku terbangun dipagi hari, indah alam ini kusaksikan dengan indera yang berharga yang Allah berikan, yaitu mata. Suasana kamar yang teduh memberikan rasa nyaman hati ini, aku bersyukur padaMu ya Allah, aku berusaha membuktikannya dengan sholat subuh. Mahasuci Engkau, ketika ku buka tirai penutup jendela kamar, kusaksikan dengan mata ini “matahari terbit”. Warna matahari yang dipadu warna langit pagi hari sungguh indah. Ketika ku buka jendela, sejuknya angin menerpa wajahku. Ya Allah, keMahaindahanMu telah kulihat melalui pemandangan pagi ini.

Hanya Engkau yang patut aku puji, dan semua ini adalah berkat Engkau yang telah memberiku pemahaman. Jika aku tak memahami hal ini, mungkin aku hanya melihat keindahan pagi ini sebatas hiburan. Tapi karena Engkau memberiku pemahaman, aku faham. Engkau telah menunjukkan dzatMu yang MahaSempurna.

Aku beranjak dari tempat ini, aku melanjutkan aktifitasku seperti biasa, madi, makan, dll. Saat diperjalanan menuju sekolah, aku melihat kiri-kanan jalan ada banyak pohon yang menaungi sisi jalan pejalan kaki. Hijau warna daunnya, coklat warna kayunya, dan kerumunan burung-burung yang menghiasinya membuatku merasa menjadi orang yang kufur. Bayangkan, hanya melalui mata aku telah mendapatkan begitu banyak nikmat dari Allah, tapi aku jarang sekali bersyukur. Benar bahwa dosanku banyak sekali, duhai Allah yang Mahapengampun, ampuni aku yang selalu melalaikanMu, aku tak kuasa menjaga jiwa-raga ini tanpa bimbinganMu, tolong jaga aku ya Allah.

Sampai disekolah, aku melihat wanita cantik. Tuhan, bagaimana caraku menjadi hambaMu yang bisa bersyukur atas nikmat yang Kau berikan ini, begitu banyak dan begitu besar. Tak kuasa aku menahan rasa bersalah, aku menuju mushola untuk bersujud pada Allah melalui sholat Dhuha.

Disana aku memujiNya, aku meminta bantuanNya, berharap Ia akan mengampuni aku dan menjaga aku dari kehidupan dunia yang ganas ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar