Pernahkah anda
mendengarkan cerita dari teman anda?
Yang udah bisa baca, pasti pernah. Ketika mendengarakan cerita orang lain,
pernahkah anda membayangkan atau bahkan merasakan apa yang teman anda
sampaikan? Mungkin pernah.
Penulis pernah
mendengarkan sebuah cerita dari seorang teman, dan rasanya sedang merasakan apa
yang ia alami. Sekarang, penulis akan mencoba bercerita tentang apa yang teman
penulis sampaikan. Tapi, cerita ini terlalu sulit untuk diceritakan dari sudut
pandang orang ketiga. So, penulis mencoba menceritakan hal yang rumit ini, yang
jelas dirasakan namun sulit diungkapkan dari sudut pandang orang pertama pelaku
utama.
Jadi, “aku” disini
bukan penulis, tapi penulis bercerita dari sudut pandang orang pertama pelaku
utama. Kan biar lebih mudah menceritakannya daripada sebagai orang ketiga.
Cerita ini, sepertinya akan panjang*lebar*tinggi karena penulis akan
menceritakan tentang kelima indera orang itu dan apa yang ia rasakan.
Oke, kita langsung
ke ceritanya.
Aku adalah siswa SMA negeri
di daerah Cirebon. Usiaku kini 18 tahun. Aku adalah putra sematawayang yang
selalu disediakan apapun igninku oleh orang tuaku. Aku tak ingin menjadi orang
yang manja, tapi orang tuaku belum mengizinkanku untuk mandiri, misalnya nyuci,
kerja sampingan, jalan kaki ke sekolah, dll. Walaupun kebutuhanku selalu
dipenuhi oleh orang tua, tapi aku bukan orang yang tak beretika. Kesopanan
aku junjung tinggi, setiap hari bajuku
rapih, tatanan rambut juga rapih plus minyak rambut. Seolah aku adalah orang
yang sempurna, tapi sebagai orang yang punya guru spiritual, aku haruslah
merendah diri. Aku punya guru spiritual, dan darinya aku belajar etika yang
baik.
Aku terbangun dipagi hari,
indah alam ini kusaksikan dengan indera yang berharga yang Allah berikan, yaitu
mata. Suasana kamar yang teduh memberikan rasa nyaman hati ini, aku bersyukur
padaMu ya Allah, aku berusaha membuktikannya dengan sholat subuh. Mahasuci
Engkau, ketika ku buka tirai penutup jendela kamar, kusaksikan dengan mata ini “matahari
terbit”. Warna matahari yang dipadu warna langit pagi hari sungguh indah. Ketika
ku buka jendela, sejuknya angin menerpa wajahku. Ya Allah, keMahaindahanMu
telah kulihat melalui pemandangan pagi ini.
Hanya Engkau yang patut aku
puji, dan semua ini adalah berkat Engkau yang telah memberiku pemahaman. Jika aku
tak memahami hal ini, mungkin aku hanya melihat keindahan pagi ini sebatas
hiburan. Tapi karena Engkau memberiku pemahaman, aku faham. Engkau telah
menunjukkan dzatMu yang MahaSempurna.
Aku beranjak dari tempat
ini, aku melanjutkan aktifitasku seperti biasa, madi, makan, dll. Saat diperjalanan
menuju sekolah, aku melihat kiri-kanan jalan ada banyak pohon yang menaungi
sisi jalan pejalan kaki. Hijau warna daunnya, coklat warna kayunya, dan kerumunan
burung-burung yang menghiasinya membuatku merasa menjadi orang yang kufur. Bayangkan,
hanya melalui mata aku telah mendapatkan begitu banyak nikmat dari Allah, tapi
aku jarang sekali bersyukur. Benar bahwa dosanku banyak sekali, duhai Allah
yang Mahapengampun, ampuni aku yang selalu melalaikanMu, aku tak kuasa menjaga
jiwa-raga ini tanpa bimbinganMu, tolong jaga aku ya Allah.
Sampai disekolah, aku
melihat wanita cantik. Tuhan, bagaimana caraku menjadi hambaMu yang bisa
bersyukur atas nikmat yang Kau berikan ini, begitu banyak dan begitu besar. Tak
kuasa aku menahan rasa bersalah, aku menuju mushola untuk bersujud pada Allah
melalui sholat Dhuha.
Disana aku memujiNya, aku
meminta bantuanNya, berharap Ia akan mengampuni aku dan menjaga aku dari
kehidupan dunia yang ganas ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar