Hari itu
begitu misterius bagi Yeni yang tidak menyangka akan terjadi hal seperti itu
kepada muridnya. Dan hari itu begitu indah bagi Yono yang tidak pernah
merassakan kehangatan seorang wanita.
Sejak
peristiwa itu, keduanya bertingkah tidak biasa. Setiap hari ketika Yeni berada
di sekolah, Yono selalu dekat dengan Yeni kecuali ketika Yeni sedang mengajar
dan ketika beristirahat di ruang guru, dan ketika Yeni tidak di sekolah, Yono
ingin sekali main ke rumah Yeni.
Yeni serasa
tidak bisa berbuat apa-apa, dia tidak ingin membuat Yono kecewa, dia juga sudah
merasa nyaman dekat dengan Yono.
Ketika
bertemu di sekolah, Yono meminta agar diizinkan main ke rumah. Hari itu juga,
Yono pertama kali main ke rumah Yeni, rumah yang kosong ketika siang. Suaminya
bekerja di sebuah perusahaan swasta dan anaknya diasuh oleh neneknya didesa
sebelah. Seperti biasa, Yono yang lugu mendadak canggung, ia bingung mau membahas tentang apa, karena
tidak ada keperluan khusus. Yeni yang hangat memulai percakapan, dia
mengenalkan suami dan anaknya melalui foto, dia bercerita tentang rumahnya,
dll. Yah, dia memang seorang yang bisa mencairkan suasana.
Waktu terasa
begitu cepat, tapi Yeni harus menjemput anaknya dan terpaksa Yono harus segera
pulang. Tapi Yeni meminta Yono untuk mengantarkannya untuk menjemput anaknya,
dengan senag hati Yono mengantarkan Yeni. “Ini
kali pertamaku membonceng seorang wanita cantik”, kata hati Yono.
Sesampainya dirumah nenek, Yono dikenalkan kepada neneknya dan anaknya yang
masih berumur sekitar 2 tahun. Tidak lama kami bertiga mengobrol, Yono dan Yeni
pulang dengan membawa jemputannya.
“Neneknya
ramah, anaknya lucu, dia juga menyukaiku”, kata hati Yono. Anak Yeni, sebut
saja Yana biasanya tidak menyukai orang asing, tapi ketika bertemu dengan Yono,
Yana tidak merasa takut atau tidak suka, bahkan dia memberi isyarat seolah
ingin bermain bersama.
Sesampainya
mereka bertiga di rumah Yeni, Yono segera berpamitan karena sudah sore, Yeni
mempersilakannya tapi ketika Yono hendak melangkah keluar, Yana menangis seolah
tidak mau ditinggal Yono.
Yono pun
tidak jadi pulang, dia berpura-pura menghibur Yana untuk menunggu Yana lengah
dan segera pulang. Tapi Yono tidak bisa karena Yana samakin merangkul-rangkul.
Tidak lama kemudian, suami Yeni pulang. Yono diperkenalkan juga dengan suaminya
“Yah, ini Yono. Murid paling pintar. No,
ini suami ibu, baru pulang kerja”. Kami tidak sempet ngobrol karena Yana
yang rewel yang selalu mendesakku
untuk masuk kembali ke dalam. Akhirnya Yana dipaksa masuk oleh ayahnya dan Yono
bisa pulang.
“rumahnya sejuk, mungkin sudah penuh
dengan cintanya; anaknya menyukaiku, mungkin aku bisa lebih dekat dengan Yeni
melalui Yana; aku sudah menyukai Yeni, tapi kok aku menyukai orang yang sudah
ada yang punya ya ??; ah, biarlah. Yang penting, aku sudah tahu bahwa aku sudah
menyukai dia, jadi bukan misteri lagi tentang perasaan ini.”. hati Yono bertanya-tanya.
Keduanya
semakin asik menjalani kedekatan mereka, apalagi ada Yana yang begitu menyukai
Yono, jadi tidak mungkin suami Yeni atau neneknya curiga dengan kedekatan
mereka yang tidak biasa.
Perasaan yang
timbul di hati Yono, tidak aneh jika ia sering merasakan cemburu. Dan kini,
Yono sudah terlalu sering di buatnya cemburu, karena Yeni adalah seorang guru
favorit di sekolahnya, banyak yang mencandainya, dan bagi Yono itu adalah
cambuk yang membuatnya sesak untuk bernafas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar