Minggu, 02 November 2014

Kisah Kasih di Sekolahnya part 4



Hari itu begitu misterius bagi Yeni yang tidak menyangka akan terjadi hal seperti itu kepada muridnya. Dan hari itu begitu indah bagi Yono yang tidak pernah merassakan kehangatan seorang wanita.

Sejak peristiwa itu, keduanya bertingkah tidak biasa. Setiap hari ketika Yeni berada di sekolah, Yono selalu dekat dengan Yeni kecuali ketika Yeni sedang mengajar dan ketika beristirahat di ruang guru, dan ketika Yeni tidak di sekolah, Yono ingin sekali main ke rumah Yeni.

Yeni serasa tidak bisa berbuat apa-apa, dia tidak ingin membuat Yono kecewa, dia juga sudah merasa nyaman dekat dengan Yono.

Ketika bertemu di sekolah, Yono meminta agar diizinkan main ke rumah. Hari itu juga, Yono pertama kali main ke rumah Yeni, rumah yang kosong ketika siang. Suaminya bekerja di sebuah perusahaan swasta dan anaknya diasuh oleh neneknya didesa sebelah. Seperti biasa, Yono yang lugu mendadak canggung, ia  bingung mau membahas tentang apa, karena tidak ada keperluan khusus. Yeni yang hangat memulai percakapan, dia mengenalkan suami dan anaknya melalui foto, dia bercerita tentang rumahnya, dll. Yah, dia memang seorang yang bisa mencairkan suasana.

Waktu terasa begitu cepat, tapi Yeni harus menjemput anaknya dan terpaksa Yono harus segera pulang. Tapi Yeni meminta Yono untuk mengantarkannya untuk menjemput anaknya, dengan senag hati Yono mengantarkan Yeni. “Ini kali pertamaku membonceng seorang wanita cantik”, kata hati Yono. Sesampainya dirumah nenek, Yono dikenalkan kepada neneknya dan anaknya yang masih berumur sekitar 2 tahun. Tidak lama kami bertiga mengobrol, Yono dan Yeni pulang dengan membawa jemputannya.

“Neneknya ramah, anaknya lucu, dia juga menyukaiku”, kata hati Yono. Anak Yeni, sebut saja Yana biasanya tidak menyukai orang asing, tapi ketika bertemu dengan Yono, Yana tidak merasa takut atau tidak suka, bahkan dia memberi isyarat seolah ingin bermain bersama.
Sesampainya mereka bertiga di rumah Yeni, Yono segera berpamitan karena sudah sore, Yeni mempersilakannya tapi ketika Yono hendak melangkah keluar, Yana menangis seolah tidak mau ditinggal Yono.

Yono pun tidak jadi pulang, dia berpura-pura menghibur Yana untuk menunggu Yana lengah dan segera pulang. Tapi Yono tidak bisa karena Yana samakin merangkul-rangkul. Tidak lama kemudian, suami Yeni pulang. Yono diperkenalkan juga dengan suaminya “Yah, ini Yono. Murid paling pintar. No, ini suami ibu, baru pulang kerja”. Kami tidak sempet ngobrol karena Yana yang rewel yang selalu mendesakku untuk masuk kembali ke dalam. Akhirnya Yana dipaksa masuk oleh ayahnya dan Yono bisa pulang.

“rumahnya sejuk, mungkin sudah penuh dengan cintanya; anaknya menyukaiku, mungkin aku bisa lebih dekat dengan Yeni melalui Yana; aku sudah menyukai Yeni, tapi kok aku menyukai orang yang sudah ada yang punya ya ??; ah, biarlah. Yang penting, aku sudah tahu bahwa aku sudah menyukai dia, jadi bukan misteri lagi tentang perasaan ini.”. hati Yono bertanya-tanya.

Keduanya semakin asik menjalani kedekatan mereka, apalagi ada Yana yang begitu menyukai Yono, jadi tidak mungkin suami Yeni atau neneknya curiga dengan kedekatan mereka yang tidak biasa.

Perasaan yang timbul di hati Yono, tidak aneh jika ia sering merasakan cemburu. Dan kini, Yono sudah terlalu sering di buatnya cemburu, karena Yeni adalah seorang guru favorit di sekolahnya, banyak yang mencandainya, dan bagi Yono itu adalah cambuk yang membuatnya sesak untuk bernafas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar